Delegasi USAMA Sirnarasa Ciamis melaksanakan ziarah kebangsaan ke Makam Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sejarah, penguatan karakter, dan refleksi atas nilai kebangsaan yang selaras dengan visi pendidikan Abah Aos QS.
Jakarta Selatan, 27 Juni 2026. Delegasi Kampus USAMA Sirnarasa Ciamis melaksanakan ziarah kebangsaan ke Makam Proklamator Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta, di kawasan TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu, 27 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum penghormatan terhadap jasa pendiri bangsa sekaligus ruang pembelajaran sejarah, penguatan karakter, dan refleksi atas tanggung jawab insan pendidikan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Dengan mengenakan kopiah atau peci merah putih sebagai simbol kecintaan kepada Tanah Air, rombongan memasuki kompleks makam dalam suasana tertib dan khidmat. Delegasi mengamati lingkungan kompleks pemakaman, relief perjalanan kehidupan Bung Hatta, prasasti perjuangan, serta bangunan makam yang memiliki sentuhan arsitektur khas Minangkabau. Pengamatan tersebut menghadirkan pengalaman belajar sejarah secara langsung. Perjuangan Bung Hatta tidak hanya dipahami sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber nilai bagi kehidupan masa kini.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan tabur bunga di pusara Bung Hatta dan Rahmi Rachim. Dalam suasana hening, para peserta mengenang jasa Bung Hatta sebagai proklamator, negarawan, pemikir, dan tokoh bangsa yang dikenal memiliki integritas, kedisiplinan, kesederhanaan, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, keteguhan prinsip, dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Keberadaan relief yang menggambarkan perjalanan kehidupan Bung Hatta turut memberikan nilai edukatif dalam kegiatan ini. Relief tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan seorang pemimpin tidak berlangsung secara instan. Kepemimpinan terbentuk melalui proses pendidikan, pengalaman organisasi, perjuangan intelektual, kedisiplinan, dan keberanian mempertahankan prinsip.
Ziarah kebangsaan ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi delegasi USAMA Sirnarasa untuk memahami hubungan erat antara pendidikan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi keluarga besar USAMA Sirnarasa, kegiatan tersebut memiliki makna yang selaras dengan visi pendidikan yang diwariskan oleh Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul QS atau Pangersa Abah Aos QS, sebagai pendiri dan penggagas utama pengembangan pendidikan di lingkungan Sirnarasa.
Sejarah kelembagaan Sirnarasa mencatat bahwa perhatian Abah Aos QS terhadap pendidikan formal telah tumbuh sejak dekade 1970-an. Perhatian tersebut kemudian diwujudkan secara bertahap melalui pendirian lembaga pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Gagasan tersebut berkembang menjadi cita-cita untuk menghadirkan pusat pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, dakwah, pengabdian, dan nilai-nilai sufistik.
Dalam pandangan pendidikan yang dikembangkan Abah Aos QS, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik dan profesional. Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki kebersihan hati, kedewasaan spiritual, tanggung jawab sosial, serta kesiapan hidup secara damai di tengah masyarakat yang beragam.
Keteladanan dan bimbingan spiritual Abah Aos QS menjadi salah satu landasan dalam membentuk sikap moderat. Pendidikan tersebut juga mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup dan memberikan manfaat di tengah masyarakat yang plural.
Atas dasar itu, ziarah ke Makam Bung Hatta dapat dipahami sebagai pertemuan dua sumber keteladanan. Dari Bung Hatta, delegasi belajar tentang nasionalisme, integritas, kesederhanaan, kecintaan terhadap ilmu, dan keberanian mempertahankan prinsip.
Sementara itu, dari Abah Aos QS, keluarga besar USAMA Sirnarasa memperoleh tuntunan mengenai pentingnya pendidikan yang tidak memisahkan kecerdasan intelektual dari kedalaman spiritual dan kemuliaan akhlak.
Kedua keteladanan tersebut memiliki titik temu dalam nilai pengabdian. Bung Hatta menunjukkan bahwa pengetahuan harus digunakan untuk memperjuangkan kemerdekaan, kesejahteraan, dan martabat bangsa.
Abah Aos QS menegaskan melalui gerakan pendidikan Sirnarasa bahwa ilmu pengetahuan harus melahirkan manusia yang bermanfaat, berakhlak, adaptif, amanah, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
Visi pengembangan kelembagaan Sirnarasa menuju Universitas Saefulloh Maslul juga diarahkan untuk memperluas kontribusi dalam bidang pendidikan, dakwah, konseling Islam, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi delegasi USAMA Sirnarasa, nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan pelaksanaan tugas dan pengabdian di lingkungan kampus. Setiap unsur dalam institusi memiliki peran penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, tertib, nyaman, dan dipercaya masyarakat.
Semangat Bung Hatta dapat diterapkan melalui kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas dalam bekerja. Keteladanan Abah Aos QS dapat diwujudkan melalui pelayanan yang tulus, santun, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Prasasti di kompleks makam yang menyampaikan bahwa cita-cita Bung Hatta akan terus menyinari perjuangan generasi penerus menjadi pesan reflektif bagi seluruh peserta. Tokoh besar dapat meninggalkan dunia, tetapi gagasan, nilai, dan keteladanannya akan tetap hidup apabila diteruskan melalui tindakan nyata.
Demikian pula cita-cita pendidikan Abah Aos QS akan terus berkembang ketika keluarga besar USAMA Sirnarasa menjaga amanah tersebut melalui peningkatan mutu akademik, tata kelola yang profesional, pelayanan yang berintegritas, dan pengabdian yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ziarah kebangsaan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan dan kegiatan di dalam kampus. Situs sejarah dapat menjadi ruang belajar yang hidup, mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman, serta membangun kesadaran bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para pendahulunya.
Melalui kegiatan tersebut, delegasi Kampus USAMA Sirnarasa Ciamis diharapkan membawa pulang semangat baru untuk menjalankan tugas secara profesional, menjaga persatuan, meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, dan menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam pengabdian.
Menghormati Bung Hatta dan melanjutkan cita-cita Abah Aos QS tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Nilai-nilai tersebut harus tercermin dalam kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, kepedulian, serta kesungguhan dalam menghadirkan pendidikan yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Delegasi USAMA Sirnarasa mengabadikan kegiatan setelah doa dan tabur bunga di pusara Bung Hatta dan Rahmi Rachim. Foto: Dokumentasi USAMA Sirnarasa