STID Sirnarasa bersama PEKA Malaysia menggelar ICSIC 2026 sebagai forum internasional yang membahas konseling Islam berbasis tashowwuf, dzikrulloh, dan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah. Kegiatan ini menjadi respons terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental dan kehampaan spiritual masyarakat modern. Seminar tersebut juga ditandai dengan penandatanganan MoU antara STID Sirnarasa dan PEKA Malaysia untuk memperkuat kerja sama riset, pelatihan, pertukaran akademik, dan pengembangan konseling Islam di tingkat internasional.
Sirnarasa, 20 Juni 2026 - Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Sirnarasa bersama Persatuan Kaunselor Pendidikan (PEKA) Malaysia menghadirkan International Conference on Sufi-Based Islamic Counseling atau ICSIC 2026 sebagai respons terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental, krisis makna hidup, dan kehampaan spiritual masyarakat modern.
Kegiatan internasional ini berlangsung di Lantai 4 Kampus STID Sirnarasa, Sabtu, 20 Juni 2026. Acara dimulai pukul 07.38 hingga 11.11 WIB dan dihadiri ratusan peserta dari kalangan akademisi, praktisi, konselor, peneliti, tokoh pendidikan, serta delegasi dari Indonesia dan Malaysia.
ICSIC 2026 mengusung tema “Integrating Tashowwuf Principles into Contemporary Islamic Guidance and Counseling Practices”. Adapun subtema yang diangkat adalah “Overcoming The Modern Spiritual Void Through Counseling Based on The Deepening of Dzikrulloh”.
Seminar ini menjadi forum ilmiah untuk membahas integrasi nilai-nilai tashowwuf dan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah dalam praktik bimbingan dan konseling Islam kontemporer.
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan tawassul. Setelah itu, peserta mengikuti prosesi menyanyikan lagu Indonesia Raya, Himne dan Mars Kampus STID Sirnarasa, serta Syair Suci Merah Putih.
Ketua Pelaksana ICSIC 2026, Muhammad Husnan Syadiidan, M.Kom., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi STID Sirnarasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, agama, negara, dan peradaban dunia.
Menurutnya, ICSIC 2026 menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan model konseling Islam berbasis ilmu tashowwuf yang relevan dengan tantangan zaman.
“Pendekatan konseling yang hanya berorientasi pada aspek psikis tidak selalu cukup untuk menjawab persoalan batin manusia modern yang semakin kompleks,” ujarnya.
Seminar internasional tersebut dibuka secara resmi oleh Dr. KH. Dadang Muliawan, M.Sos. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguatan pendekatan spiritual dalam dunia pendidikan, dakwah, dan konseling.
Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai tashowwuf dan dzikrulloh memiliki peran penting dalam membangun ketahanan mental, karakter, dan kesehatan jiwa masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Dr. KH. Dadang Muliawan juga menyampaikan bahwa ICSIC 2026 menjadi bagian dari agenda besar pengembangan kelembagaan STID Sirnarasa menuju Universitas Saefulloh Maslul atau USAMA Sirnarasa.
Transformasi tersebut diarahkan melalui penguatan kualitas akademik, perluasan jejaring kerja sama internasional, serta rencana pembukaan program studi baru. Program studi tersebut meliputi Hukum Ekonomi Syari’ah, Ekonomi Syari’ah, dan Manajemen Pendidikan Islam.
Langkah ini diharapkan dapat memperluas kontribusi institusi dalam melahirkan sumber daya manusia yang Sehat, Harmonis, Unggul, Universal, Futuristik, Inovatif, dan Integratif atau SHUUFII. Lulusan yang dihasilkan diharapkan mampu bersaing secara global, tetapi tetap berakar pada nilai spiritual dan tradisi keilmuan tashowwuf.
Salah satu agenda penting dalam ICSIC 2026 adalah penandatanganan kerja sama internasional antara STID Sirnarasa dan PEKA Malaysia. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding atau MoU.
MoU ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan penelitian bersama, pertukaran akademik, pelatihan profesional, serta penguatan jejaring internasional di bidang bimbingan dan konseling Islam.
Forum ilmiah semakin menguat saat memasuki sesi keynote speech. Sejumlah pakar dari Indonesia dan Malaysia hadir untuk menyampaikan gagasan mengenai konseling Islam, pendidikan sufistik, dan pendekatan spiritual dalam menghadapi problem manusia modern.
Dr. Syuhudul Anwar, M.Ag., sebagai pakar Ilmu Pendidikan Sufistik, menjelaskan pentingnya sinergi antara konseling Islam, ilmu tashowwuf, dan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah. Menurutnya, TQN memiliki sistem pembinaan yang utuh melalui dzikrulloh, talqin, baiat, dan suhbah.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu menjawab kehampaan spiritual modern sekaligus membangun kesehatan mental dan spiritual secara berkelanjutan.
Sementara itu, Dr. Asro’i, M.Pd., dari Pengembangan Akademik Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, menekankan bahwa pendidikan tinggi keagamaan Islam perlu mengintegrasikan dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Menurutnya, model konseling berbasis tashowwuf memiliki relevansi kuat untuk menjawab tantangan global, termasuk materialisme dan dislokasi agama.
Presiden PEKA Malaysia, Datin Dr. Siti Taniza Toha, turut memaparkan perkembangan konseling dan pendidikan di Malaysia. Ia juga membuka peluang kolaborasi lebih luas antara Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan konseling Islam.
Menurutnya, pendekatan konseling ilmiah modern tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai spiritual. Karena itu, Islamic Counseling perlu dikembangkan sebagai cara hidup yang kuat secara epistemologis melalui riset, pendidikan, dan pelatihan konselor.
Puncak kegiatan berlangsung dalam sesi International Panel Discussion. Sesi ini menghadirkan Yandi Cahya Yundani, M.Pd., Dr. Dewi Khoer Mulyana, M.Si., dan Muhammad Saffuan Abdullah, KB., PA.
Yandi Cahya Yundani, M.Pd., Dosen Bimbingan Penyuluhan Islam, menyampaikan bahwa konseling Islam perlu bergeser dari pendekatan yang hanya menyelesaikan gejala masalah menuju pembangunan kesejahteraan spiritual individu.
Ia menilai model konseling sufistik berbasis dzikrulloh memiliki legitimasi normatif dan dasar empiris yang dapat dikaji secara ilmiah.
Dr. Dewi Khoer Mulyana, M.Si., sebagai praktisi konseling sufistik, memaparkan praktik rehabilitasi korban penyalahgunaan NAPZA berbasis spiritual. Praktik tersebut diterapkan di IPWL Inabah 2 Putri Pesantren Sirnarasa.
Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi secara holistik sangat ditentukan oleh pembangunan kembali hubungan spiritual pasien dengan Allah SWT melalui dzikrulloh, ibadah, dan pembinaan akhlak.
Muhammad Saffuan Abdullah, KB., PA., Konselor Internasional PEKA Malaysia, menegaskan bahwa paradigma konseling Islam perlu bergerak dari pendekatan penyembuhan menuju pengembangan potensi, kebahagiaan, dan kualitas hidup secara menyeluruh.
Ia menilai integrasi konseling modern dan nilai-nilai sufisme dapat menjadi pendekatan yang lebih utuh dalam menjawab kebutuhan manusia, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta adalah pemaparan tentang praktik rehabilitasi korban penyalahgunaan NAPZA di IPWL Inabah 2 Putri Pesantren Sirnarasa. Praktik tersebut dinilai menjadi contoh nyata penerapan dzikrulloh, pembinaan akhlak, dan pendekatan TQN dalam proses pemulihan fisik, mental, dan spiritual.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis tentang konseling Islam berbasis tashowwuf, tetapi juga memperoleh gambaran praktiknya di lapangan. Pertukaran pengalaman antara akademisi dan praktisi lintas negara juga memperkaya perspektif peserta mengenai model konseling alternatif.
Menjelang akhir kegiatan, panitia menyampaikan rangkuman hasil seminar dan rekomendasi strategis. Salah satu rekomendasi utama adalah perlunya penguatan integrasi nilai-nilai tashowwuf, dzikrulloh, dan pendekatan spiritual dalam praktik bimbingan dan konseling.
Acara ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng syukuran Kabinet Merah Putih oleh Hadhrotusyeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Q.S. Prosesi tersebut diiringi lantunan Syair Suci ke-12.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama narasumber, delegasi internasional, panitia, dan peserta.
Melalui ICSIC 2026, STID Sirnarasa dan PEKA Malaysia menghadirkan forum akademik internasional yang memperkuat khazanah keilmuan konseling Islam. Forum ini juga menegaskan bahwa nilai-nilai tashowwuf dan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah tetap relevan dalam membangun kesehatan mental, ketahanan spiritual, dan kehidupan masyarakat modern yang lebih bermakna.